Ulasan Buku dan Film

Reviu Buku : Kahlil Gibran, Setitis Air Mata Seulas Senyum

Biodata Buku :

Penyusun : Bilif Abduh

Penyunting : Zhivana A.U

Diterbitkan oleh : Checklist

ISBN : 978-623-7046-24-0

Cetakan I : 2019

Jumlah halaman : 156 

Sekilas Tentang Buku

Pertama kalinya meminjam buku bertema puisi dengan penulis merupakan pujangga terkenal kelahiran Lebanon, Kahlil Gibran. Mendengar nama ini juga pertama kali saat duduk di SMA, karena punya teman yang senang sekali dengan puisi dan sering mengambil penggalan puisi karya Kahlil Gibran.

Niatan awal membaca buku ini adalah membangun imajinasi dan memperbanyak kosakata indah, sehingga bisa memperbanyak kekayaan bahasa lisan saya pribadi. Membaca jenis buku yang tidak pernah saya baca sebelumnya, karena karya puisi cukup sulit dipahami, memberikan pengalaman baru dalam keberagaman membaca.

Awalnya memang cukup sulit memahami makna dari goresan puisi yang dibuat oleh Kahlil Gibran. Dalam buku setebal 156 halaman ini terdapat 53 puisi yang tertulis indah. Banyak yang perlu pendalaman lagi bagi saya agar bisa paham akan maksudnya. Tapi yang jelas kata-kata dalam goresan karya-karya itu sangat indah dan enak untuk dibaca.

Karya Yang Berkesan

Pada buku ini ada beberapa puisi yang sangat saya sukai. Kata-katanya indah dan sarat dengan makna. Salah satu yang mungkin sering dibagikan penggalannya, berjudul Anakmu Bukan Milikmu.

Disini Kahlil Gibran menuliskan tentang makna anak bagi orangtuanya. Anak-anak adalah titipan Sang Pencipta yang memiliki garis takdir mereka masing-masing. Orang tua hanyalah perantara Sang Pencipta untuk membawa mereka menuju jalan tersebut.

Diibaratkan orang tua adalah panah, sedangkan anak adalah busurnya, dan jelas pemanahnya adalah Sang Pencipta. 

Puisi ini keren banget dan punya makna mendalam untuk menyindir para orang tua yang terlalu memaksakan kehendak mereka pada sang anak.

Selanjutnya saya juga menyukai puisi berjudul Bangsa Kasian, Guru, Alam dan Manusia, dan Tentang Pernikahan.

Puisi berjudul Guru terasa menyindir saya. Bunyi puisinya sebagai berikut :

Peran guru bukan sekedar mengajar dengan kata-kata, namun yang terpenting adalah menjadi teladan. 

Simpul Rasa

Keluar dari zona nyaman bukan hanya dalam hal kegiatan, namun membaca terkadang juga perlu keluar dari zona nyaman.

Selama ini saya sangat menghindari membaca buku puisi karena terasa cukup rumit. Tapi setelah membaca karya puisi dari Kahlil Gibran ini, saya mendapatkan pencerahan dan memberi warna baru dalam nuansa membaca saya.

Saya menikmati dan akan mencoba explore lagi jenis bacaan yang bisa memperkaya kosakata dan imajinasi. 

Untuk buku ini sendiri saya tidak membeli, namun meminjam di Perpustakaan Daerah Kota Pontianak. Yang mau membaca buku ini bisa langsung saja ke sana ya.

error: Content is protected !!