ChallengeDokumentasi KirayaSkripsi KLIP

Ketika Memilih Homeschooling

Siapa yang disini anaknya homeschooling (HS)? Jika pertanyaan ini diajukan kepada keluarga atau teman-teman sepergaulan hanya satu atau dua yang mungkin mengacungkan tangan. HS sampai saat ini masih belum lazim untuk keluarga dan lingkungan di sekitar saya. Jika mendengar bahwa 2 anak saya HS pasti langsung bertanya kembali, HS nya dimana?

Ini saya bingung mau jawabnya. Hehe …. Sampai saat ini masih banyak yang menyamakan HS dengan sekolah non formal. Ini juga terkait minimnya informasi tentang HS. Saya sendiri tercemplung ke ranah ini bukan atas kemauan sendiri, tapi kondisi yang memaksa untuk melakukannya.

Gimana kisah lengkapnya akan saya paparkan disini sebagai pembelajaran bersama agar teman-teman yang ingin HS juga tidak takut mencobanya. 🤭 Saat saya bisa kalian juga pasti bisa.

Saat Harus Memilih Jalur Pendidikan

Sebagai anak yang tumbuh besar di keluarga yang kental dengan pendidikan formal (bersekolah), saya tidak pernah menyangka akhirnya akan memilihkan jalur HS buat anak-anak. Pilihan HS ini harus dibilang saya ambil melihat kondisi anak ketiga, Kak Amira, yang tidak mau sama sekali bersentuhan dengan sekolah. 

Sebagai wanita yang bekerja di ranah publik tanpa pengasuh, saya mengambil pilihan, sama seperti si Sulung, Kak Kia, untuk memasukkannya ke sekolah pada usia yang cukup belia, kurang lebih 4 tahun. Pilihan ini juga diambil setelah melihat Kak Mira yang mulai tertarik dengan kegiatan belajar.

Saya mengajaknya mendaftar di salah satu lembaga pendidikan anak usia dini. Saat pertama masuk Kak Mira terlihat bersemangat, namun tidak sampai satu minggu, dia mulai mogok untuk masuk sekolah. Saya pun mencoba untuk membujuk dan mulai memaksa mengantarnya ke sekolah. Namun yang terjadi adalah tangisan dan teriakan penolakan dari Kak Mira. Akhirnya Kak Mira pun tak melanjutkan sekolahnya.

Satu tahun kemudian saya mulai mencoba untuk mengajaknya kembali bersekolah. Sekolah kali ini merupakan pendidikan non formal berbasis montessori yang dikelola salah satu teman. Di sini, sebelum masuk, kami bisa melakukan uji coba selama 1 minggu. 

Uji coba sekolah kali ini diikuti selain oleh Kak Mira, ada juga Dek Yaya yang usianya saat itu 3 tahun. Satu pekan terlalui dengan baik dan mereka berdua terlihat bersemangat. Saya dan suami pun setuju untuk mendaftarkan mereka berdua di sana.

Satu bulan berlalu dengan lancar. Memasuki bulan kedua drama sekolah mulai kembali terjadi. Saat itu saya mulai stres berat. Di satu sisi, anak-anak sudah mulai harus mengecap pendidikan demi masa depan mereka, namun di sisi lain dilema sekolah juga menghantui. 

Apakah pendidikan akan terserap dengan baik saat anak-anak memulainya dengan keengganan dan tangisan? Apakah pendidikan harus dipaksakan? Apakah ini yang anak-anak butuhkan?

Banyak pertanyaan yang muncul di kepala dan harus segera ditemukan jawabannya.

Bertemu Komunitas Praktisi HS

Dalam kekalutan dan kegalauan pendidikan anak, Allah mempertemukan saya dengan keluarga-keluarga praktisi HS dan akhirnya saya bergabung di kelas Rumah Inspirasi. Berada disini saya seperti bertemu oase di padang pasir. 

Rumah Inspirasi adalah kelas belajar lengkap tentang HS. Kak Lala dan Mas Aar adalah dua orang hebat yang berada di balik kelas ini. Mereka memiliki 3 orang anak yang tidak pernah bersekolah sama sekali. Dari kelas ini saya banyak belajar, mulai dari hal yang paling dasar hingga sekarang bergabung bersama teman-teman lainnya di seluruh Indonesia yang merupakan praktisi HS. Ternyata banyak lho keluarga HS itu. Dan mereka memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari psikolog, pemilik sekolah alam hingga keluarga biasa. Hati saya membesar saat tau bahwa saya tidak sendirian.

HS Lebih dari Sekedar Sekolah Anak

Sampai saat ini saya sudah menjalani HS secara serius selama 2 tahun dan buat saya ini bukan hanya sekedar belajar tentang sekolah anak, tapi lebih dari itu, saya belajar menjadi orangtua yang lebih baik buat anak. HS memaksa saya untuk belajar hal-hal baru dan mempraktekannya, karena saat HS saya tidak bisa bertumpu pada siapapun. Keberhasilan dan kegagalan anak tergantung kepada saya untuk bisa mengelola dan mengaplikasikannya dalam pendidikan anak.

HS adalah buat perintis pendidikan yang berani untuk belajar, berkembang dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat. Belajar tentang HS membuka pikiran saya bahwa pendidikan itu adalah salah satu cara untuk dapat memanusiakan anak-anak, memberikan ilmu dan keterampilan yang tepat agar mereka siap untuk menghadapi persaingan didunia kerja.

Tips Memulai HS ala Kiraya Family

Walau saya sendiri masih butuh belajar banyak tentang HS, namun ada beberapa catatan penting yang bisa disarankan buat keluarga yang ingin memulai HS.

  1. Carilah informasi sebanyak mungkin sebelum memutuskan untuk HS. Temukan teman belajar dan komunitas yang menguatkan. Ini sangat penting agar kita tidak cepat down saat mendengar omongan sinis dari orang-orang yang tidak memahami latar belakang pilihan kita.
  2. Diskusikan dengan pasangan tentang pilihan HS bagi anak, karena dukungan dan kerjasama dengan pasangan sangat penting. Tentukan bersama tujuan / visi pendidikan yang ingin dicapai melalui HS ini. Ada 3 visi yang perlu jadi pertimbangan, yaitu kapasitas personal, kapasitas sosial dan kapasitas profesional. Saya sendiri masih bongkar pasang menentukan visi pendidikan keluarga.  🤭
  3. Melakukan manajemen belajar HS bersama anak. Banyaknya waktu luang merupakan hal yang menguntungkan karena banyak yang bisa dieksplorasi. Namun jika kedua pasangan bekerja, menentukan waktu belajar serta metode penting sekali agar pendidikan anak tetap terarah sesuai dengan visi pendidikan keluarga.
  4. Lakukan HS dengan hati gembira, dengan demikian perjalanan sulit ini akan terasa lebih ringan. Tetap semangat dengan semua rintangan karena ingat ini kita lakukan demi kepentingan anak-anak, bukan karena tujuan lain.

Demikian sepenggal kisah saya dan keluarga dalam memulai HS. Perjalanan kami masih panjang, doakan saya dan keluarga tetap bisa konsisten dalam menjalani ini semua. Buat teman-teman yang memiliki anak HS boleh berbagi pengalaman juga di kolom komentar. Saya tunggu.

error: Content is protected !!